Jakabaring Sport City, Raup Cuan dengan Prinsip “Mandiri Tanpa APBD”

Transformasi Jakabaring Sport City (JSC) di Palembang merupakan salah satu kisah paling menarik dalam manajemen infrastruktur olahraga di Indonesia. Dibangun melalui tiga fase besar PON 2004, SEA Games 2011, dan Asian Games 2018. Namun, setelah pesta olahraga usai, muncul pertanyaan besar: bagaimana kawasan sebesar ini bisa terus hidup tanpa menjadi “gajah putih” yang membebani APBD?

Jakabaring Sport City, Raup Cuan dengan Prinsip “Mandiri Tanpa APBD” Salah satu event musik yang diselenggarakan di kawasan Jakabaring Sport City (JSC) Palembang. (sumber: instagram.com/jakabaringsportcity)

Penulis: Faisal al Izlami, Perencana Ahli Madya pada Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga

Transformasi Jakabaring Sport City (JSC) di Palembang merupakan salah satu kisah paling menarik dalam manajemen infrastruktur olahraga di Indonesia. Dibangun melalui tiga fase besar PON 2004, SEA Games 2011, dan Asian Games 2018, kompleks olahraga seluas 325 hektare ini menelan investasi triliunan rupiah. JSC dilengkapi 22 venue internasional, stadion berkapasitas 40 ribu penonton, wisma atlet dengan 3.000 tempat tidur, arena air sepanjang 2.500 meter, hingga fasilitas pendukung seperti food court dan area rekreasi. Namun, setelah pesta olahraga usai, muncul pertanyaan besar: bagaimana kawasan sebesar ini bisa terus hidup tanpa menjadi “gajah putih” yang membebani APBD?

Jawabannya datang lewat transformasi JSC menjadi BUMD berbentuk perseroan (PT JSC). Sejak 2017, status kelembagaan ini memaksa JSC untuk bergerak dengan logika korporasi: mandiri secara finansial, transparan dalam tata kelola, dan berorientasi pada keberlanjutan. Di bawah kepemimpinan Meina Fatriani Paloh, lahirlah prinsip “Mandiri Tanpa APBD”, yang menjadi fondasi strategi jangka panjang.

Pilar Strategi: Mandiri Tanpa APBD

Strategi JSC disusun ke dalam lima pilar utama. Pertama, komersialisasi aset, yakni mengubah beban biaya menjadi sumber pendapatan. Stadion, wisma atlet, dan venue lain tidak hanya untuk olahraga, tetapi juga disewakan untuk konser, pernikahan, hingga pameran. Layanan tambahan seperti penginapan, catering, MICE, dan paket sport tourism turut memperluas basis konsumen.

Kedua, diversifikasi event. Alih-alih mengandalkan satu mega event, JSC menyusun portofolio multi event: Liga 1, turnamen e-sport, festival budaya, hingga fun run komunitas. Strategi ini menjaga utilisasi aset dan menciptakan cash flow lebih stabil.

Ketiga, pengembangan sport tourism. JSC diposisikan sebagai destinasi wisata olahraga, di mana pengalaman menonton pertandingan dikombinasikan dengan kuliner khas Palembang dan wisata Sungai Musi. Hal ini memperkuat branding Palembang sebagai City of Sport sekaligus menarik wisatawan mancanegara.

Keempat, efisiensi internal dan tata kelola. Dengan prinsip good governance, JSC mengelola jadwal pemakaian, perawatan prediktif, digitalisasi pemesanan venue, serta penerapan Sistem Pengendalian Intern (SPI). Transparansi laporan keuangan juga menjadi kunci legitimasi sosial dan kepercayaan investor.

Kelima, kemitraan multipihak (Public Private Partnership). Melalui skema Build Operate Transfer/Build Own Operate, JSC menjalin kerja sama dengan swasta untuk pembangunan. Standar layanan dijaga lewat Service Level Agreement (SLA) yang memastikan kebersihan, keamanan, dan kualitas fasilitas.

Langkah JSC bukanlah improvisasi, melainkan adaptasi dari praktik terbaik sport city dunia. Singapore Sports Hub menginspirasi dari sisi PPP dan integrasi fungsi transportasi. Aspire Zone di Qatar mencontohkan bagaimana sport city juga bisa menjadi pusat sains olahraga. Sydney Olympic Park menunjukkan pentingnya transformasi pasca-event menjadi distrik multifungsi. London Olympic Park memberi pelajaran tentang urban regeneration, sedangkan Guangzhou dan Incheon menjadi referensi konteks Asia. Dari benchmarking ini, JSC menegaskan posisinya di jalur yang benar, meski masih ada ruang penguatan, khususnya dalam riset olahraga, transportasi publik, dan digitalisasi.

Dampak yang Dihasilkan

Transformasi JSC membawa dampak luas. Dari sisi finansial, diversifikasi pendapatan berhasil menciptakan kemandirian kas. Laba perusahaan meningkat, dari Rp 2 miliar di 2023 menjadi Rp 4,4 miliar di 2024. Dari sisi sosial, JSC memberdayakan puluhan UMKM, menyerap ribuan tenaga kerja event musiman, dan menyediakan ruang bagi komunitas olahraga lokal. Reputasi Palembang sebagai City of Sport semakin kuat, sementara dari sisi lingkungan, JSC mulai mengadopsi konsep green sport city dengan manajemen energi, pengelolaan sampah, dan pemanfaatan danau sebagai reservoir ekologis.

Pembelajaran penting yang muncul adalah keberlanjutan sport city tidak bergantung pada satu mega event, melainkan pada kombinasi diversifikasi, inklusi sosial, dan inovasi berkelanjutan.

Tantangan yang Dihadapi

Meski berhasil mandiri, JSC menghadapi sejumlah tantangan. Dari sisi tata kelola, dilema muncul antara orientasi bisnis dan mandat sosial sebagai BUMD. Transparansi laporan keuangan dan kapasitas SDM masih perlu ditingkatkan. Dari sisi keuangan, arus kas rentan ketika event besar batal atau saat pandemi, sementara akses pembiayaan proyek besar masih terbatas. Secara sosial, risiko eksklusivitas muncul jika tarif sewa dianggap terlalu tinggi atau UMKM lokal tersisih. Secara teknologi, JSC masih tertinggal dalam digitalisasi, tiket elektronik, dan smart venue. Dari sisi lingkungan, tantangan green event semakin mendesak seiring isu perubahan iklim.

Replikasi untuk Daerah Lain

Model JSC menawarkan inspirasi bagi daerah lain di Indonesia yang sering terjebak dalam pola “event-driven” dan berakhir dengan gajah putih pasca-PON atau event besar. Prinsip-prinsip yang bisa direplikasi antara lain: transformasi kelembagaan ke BUMD, diversifikasi pendapatan, PPP, inklusi sosial, branding konsisten, serta inovasi berkelanjutan. Replikasi tidak harus berskala 300 hektare, tetapi bisa disesuaikan: sport center kecil di kabupaten, sport city regional di provinsi, hingga hub nasional seperti GBK.

Roadmap replikasi dapat dijalankan bertahap: mulai dari fondasi regulasi dan studi kelayakan, diversifikasi dasar, ekspansi kemitraan PPP, hingga konsolidasi branding global dengan implementasi smart & green sport city.

Kisah JSC membuktikan bahwa sport city di Indonesia bisa bertahan tanpa bergantung pada APBD. Dengan kombinasi strategi komersialisasi aset, diversifikasi event, sport tourism, efisiensi tata kelola, dan kemitraan multipihak, JSC berhasil keluar dari jebakan gajah putih dan menjelma menjadi pusat sport tourism dan ekonomi kreatif Palembang.

Secara praktis, JSC menjadi role model bagi daerah lain untuk mengembangkan sport city yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan benchmark global sebagai acuan dan inovasi lokal sebagai pembeda, JSC kini berdiri bukan hanya sebagai ikon olahraga Sumatera Selatan, tetapi juga sebagai laboratorium tata kelola sport city berkelas dunia.

Catatan: Istilah "gajah putih" dalam konteks pembangunan adalah sebuah idiom yang berarti proyek, aset, atau bangunan yang menelan biaya sangat besar, namun pada akhirnya tidak bermanfaat atau tidak digunakan secara optimal sehingga justru menjadi beban pemeliharaan dan pengeluaran. Proyek "gajah putih" biasanya dibangun dengan tujuan prestisius, namun gagal memenuhi fungsinya, sepi pemanfaatan, atau sangat mahal untuk dirawat, seperti stadion, gedung, atau fasilitas yang megah tapi terbengkalai.

Editor: Tutut Bina S, Pranata Humas Ahli Madya pada Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga

BAGIKAN :
PELAYANAN